Ranu Kumbolo, Surganya Gunung Semeru | M Reza Faisal

reza

full-time(software-developer,lecturer); part-time(traveller, food-tester);

Ranu Kumbolo, Surganya Gunung Semeru

Jun 22, 2014 by     2 Comments    Posted under: I am Experience

Ini perjalanan ke gunung kedua setelah Ijen. Tujuannya cuma ingin tahu bagaimana rasanya “ngetem” di gunung sekaligus untuk cari tahu perbandingan trek ini dengan trek RAR #nekat :P  Dan sebulan setelah menginjak Ijen maka tanggal 11 Juni 2014 malam, kaki ini kembali menginjak Surabaya untuk kemudian melanjukan perjalanan ke Malang. Akhirnya bisa juga berkunjung ke kota ini yang katanya dingin, tapi tidak terasa dingin :P

{Perjalanan Dimulai}

Tanggal 12 Juni 2014, sekitar pukul 7 pagi berangkat ke tempat jip (bukan jeep) yang akan mengantar ke Ranu Pani dengan menggunakan angkot carteran. Di sini sudah disiapkan sarapan yang maknyus…PECEL!!!!!!!!!!!!!! Ini dia yang dicari, pecel dengan sayuran seger, nasi hangat, tempe dan tahu serta tidak ketinggalan teh manis panas (atau teh panas manis).  Setelah perut terisi, memasukkan 2 botol akua 600mm (bukan aqua biar tidak dikira iklan) dan memegang 1 botol lainnya ditangan (sesuai arahan om EO) maka perjalanan ke Ranu Pani dimulai dengan menggunakan jip.  Sebelum sampai ke Ranu Pani akan dapat dilihat pemandangan seperti ini di sisi jalan.

02

03

Bukit Teletabis biasanya beberapa orang menyebut tempat ini, kali ini mempunyai kesempatan melihat tempat ini dari atas, dimana sekitar 2 tahun yang lalu berkesampatan berada di savana di bawah saja :)

Perjalanan ke Ranu Pani tidak terlalu lama walau tidak ingat berapa lamanya, yang pasti perjalanan ini membuat pecel yang baru saja disantap menjadi gado-gado dikarenakan ada bagian jalan yang cukup rusak saat dilalui. Setelah beberapa lama akhirnya sampai juga ke Desa Siaga Bencana Ranu Pani. Kalimat itu yang dapat dilihat pada gerbang selamat datang di desa ini. Di desa ini sinyal GSM sudah tidak ada lagi, jadi jangan berharap untuk check-in atau update status atau memberi kabar ke orang-orang dekat anda :)

Sebelum memulai perjalanan ke Ranu Kumbolo terlebih dahulu mengurus perijinan, untuk keperluan tersebut jangan lupa untuk menyiapkan fotocopy KTP dan juga kartu sehat terbaru dari dokter/rumah sakit/puskesmas.

04

Setelah perijinan selesai dilakukan pengarahan sebentar oleh petugas, dan kemudian pernjalan ke Ranu Kumbolo di mulai. Ini dia muka-muka yang masih ceria di bawah gerbang selamat datang :)

05

Tidak berapa jauh dari gerbang ini akan langsung bertemu tanjakan yang lumayan membuat ngos-ngosan (bagian kalian, bukan saya #eh).  Kurang lebih 20 menit akan berada di lokasi Landengan Dowo. Di sini bisa dilihat jarak antara Ranu Pani dan Ranu Kumbolo yaitu sekitar 10.5 km. Lumayan jika dibandingkan Ijen yang cuma 3km sudah sampai ke puncaknya.

06

Pada menit ke 40 kami sudah berada di Pos 1, istirahat sebentar ngemil coklat dan ngobrol. Saat istirahat sebaiknya memang jangan duduk, tapi tetap berdiri atau senderan di dinding atau pohon. Kalau langsung duduk dikhawatirkan badan akan berada di state santai dan membuat terasa berat saat harus jalan lagi (sok tau) :P Setelah 2 jam berlalu akhirnya sampai di lokasi Watu Rejeng, yang artinya perjalanan sudah menempuh kurang lebih 6km.

07

Sampai sini perjalanan masih santai, belum ketemu tanjakan yang mantab. Dan akhirnya setelah 3 jam sampai juga di Pos 3 dimana kita akan bersiap naik ke tanjakan ini, untungnya kemantaban tanjakan ini tidak terlalu panjang.  Tapi sebelum naik ke tanjakan tersebut, istirahat sebentar sambil ngemil coklat dan mengatur nafas. Selama perjalanan lumayan banyak bertemu para pejalan kaki lainnya yang naik ataupun turun. Menyenangkan memang ketika saling bertatap muka saling berbagi senyum (walau keringantan dan ngos2an), saling berbagi salam selamat pagi atau memberi semangat. Tidak hanya pria, juga wanita. Tidak hanya yang kurus tapi juga yang “tidak kurus”. Tidak hanya yang muda tapi juga yang “tidak muda” dapat ditemu di jalan setapak menuju Ranu Kumbolo.  Kabar gembira untuk para social network addict, di Pos 1, Pos 2 dan Pos 3 terkadang masih ditemui sinyal 3G untuk provider telkom tertentu. Jadi pilihlah provider telkom dengan bijak :P

Dan akhirnya perjalanan dilanjutkan, tanjakan mulai dinaiki. Memang tanjakan yang mantab, harus konsentrasi untuk mengatur nafas dengan benar. Dan akhirnya tanjakan ini terlewati juga. Setelah ini jalan lebih banyak menurun sampai ke Pos 4 yang harus ditempuh selama 1 jam dari Pos 3. Jalan menurun dari Pos 3 sampai Pos 4 ini bukan hanyalah kebahagiaan fatamorgana (halah), karena artinya saat pulang nanti dari Pos 4 ke Pos 3 akan menjadi tanjakan :P

{Ranu Kumbolo}

Dan dari Pos 4 kita sudah disapa … “Selamat Datang di Ranu Kumbolo, Surganya Gunung Semeru

08

Pos 4 memang pos terakhir untuk sampai ke Ranu Kumbolo, tapi bukan berarti perjalanan ini sudah berakhir. Masih harus melakukan perjalanan lagi sekitar 20-30 menit untuk sampai di lokasi berkemah, yang sudah dapat dilihat kecil di ujung tengah danau ini. Untuk sampai kesana perlu jalan memutar menurun dan menajak :)

Dan akhirnya sampai ke titik ini. Tempat istirahat dan bermalam dan menikmati hidup tanpa listri, sinyal dan WC :)

11

Sisi kanan danau ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Refleksi yang indah. Pohon yang rimbut dan semak-semak yang tinggi dan tertutup yang akan menjadi tempat favorite bagi siapa saya yang masih percaya metabolisme itu selalu ada dan berjalan di mana saja, termasuk di sini :P

12

Di sini tidak diperbolehkan untuk membuat api unggu, tidak boleh mandi di danau atau kegiatan cuci muka dan sikat gigi yang memungkinkan sabun dan pasta gigi dibuang ke danau. Dan artinya juga tidak boleh mencuci di danau. Yang dapat dilakukan adalah cuci muka dan wudhu tanpa sabun. Air yang segar, dingin dan jernih, kadang akan terlihat ikan-ikan kecil di air sekitar kita.

Suhu saat siang di Ranu Kumbolo sekitar 20 derajat celcius, dan saat malam tiba suhu bisa mencapat 15 derajat atau di bawahnya. Malam disini tempat saat bulan purnama penuh, jadi kurang bagus untuk penikmat bintang karena terlalu terang sehingga para bintang kalah bersaing dengan cahaya sang bulan. Selain itu langit juga tertutup oleh kabut yang selalu hadir saat pagi dan menjelang malam, yang juga menghalangi para bintang untuk pamer cahaya.

13

Saat gelap dan saat dingin, tempat yang paling tepat adalah di dalam tenda logistik, sambil melihat nasi dimasak. Telor, ikan dan tempe di goreng. Atau sayur direbus. Dan tentu saja berkumpul dengan teman-teman, ngobrol, bercanda dan berbagi gas di perut. Tidak berbeda dengan lirik “Mahameru” yang ditulis hampir 10 tahun yang lalu ini.

Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`

Menatap jalan setapak
Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai

Kapan lagi bisa bersama teman-teman yang tanggannya tidak sibuk untuk geser-geser dan pencet-pencet layar ponsel. Kapan lagi bisa seperti ini. Kapan lagi aman dari telpon nomor yang tidak dikenal yang setelah diangkat ternyata marketing kartu kredit atau asuransi. Kapan lagi aman dari gangguan email, twitter, path atau facebook :P

Di sini jangan tidur terlalu cepat, walaupun sudah pakai sleeping bag atau jaket tebal tapi dinginnya masih sangat terasa. Jadi lebih baik memang kumpul-kumpul dan ngobrol-ngobrol dulu, walau memang masih dingin tapi kadang terlupakan jika lagi saling bercanda.

Tetapi malam tetap harus diakhiri dengan tidur, dan dingiiin :P

Saat disini, jam 5 pagi sudah terang dan matahari pun siap menyapa bumi dengan cahayanya. Tapi sayangnya selama 2 malam di sini, tidak mendapatkan sunrise yang cakep di antara belahan bukit dan danau Ranu Kumbolo karena tertutup oleh tebalnya kabut. Ini jarang terjadi, biasanya selalu aman bertemu sunrise yang membahana, dan sering bertemu sunset yang mendung bahkan tanpa sunset. Tapi kali ini justru tidak bertemu sunrise sama sekali :P

14

{Tanjakan Cinta}

Disekitar Ranu Kumbolo terdapat beberapa tempat lain yang bisa memberikan kenangan yang berkesan, seperti Tanjakan Cinta. Ada yang bilang disebut Tanjakan Cinta karena bentuk tanjakannya yang seperti amor. Tapi ada juga yang menyebut nama itu karena saat menaiki tanjakan ini akan ngos-ngosan seperti saat bercinta #halah. Memang tanjakan yang panjang dan sensasi yang berbeda dengan trek-trek sebelumnya yang telah kami lewati.

15

Tanjakan ini wajib dinaiki karena beberapa alasan. Alasan yang pertama adalah karena saat berada di atas tanjakan ini kita akan dapat melihat kembali keindahan Ranu Kumbolo dari atas dari sisi yang berbeda.

16

{Oro Oro Ombo}

Setelah melewati tanjakan ini maka terdapat jalan menurun menuju Oro Oro Ombo yang sering disebut banyak orang sebagai landang lavender. Mungkin karena bunga tanaman yang berwarna ungu seperti halnya bunga lavender, tetapi sepertinya itu bukan bunga Lavender #soktau :P

Selamat datang di “Oro Oro Ombo, Surga Ungu di Gunung Semeru” :P

 

17

Dari atas Tanjakan Cinta, untuk bertemu padang ungu ini dapat melewati jalan yang langsung menurun seperti Tanjakan Cinta, lebih pendek dan lebih singkat. Atau dapat juga melewat jalan yang lebih landai dan menyusuri sisi bukit di gambar ini. Dari sini dapat dilihat hutan yang disebut Cemoro Kandang.

18

{Ayek-Ayek}

Tempat cantik lainnya yang dapat ditemui disekitar Ranu Kumbolo adalah Ayek Ayek. Lembah rerumputan yang cantik, dimana kabut turun pelan menyapa siapa saja yang berjalan di lembah ini :P

19

20

Sebenarnya masih ada beberapa tempat lain yang bisa dikunjungi saat perjalanan dilanjutkan sampai ke Mahameru seperti Rajangan, Kalimati dan Arcopodo.

21

Dan tentu saja Mahameru, puncaknya Gunung Semeru. Puncak yang pemalu dan bersembunyi diantara pengunungan lainnya. Puncak yang akan memberikan pelajaran matematika 5-3 (5 kali melangkah menanjak, 3 langkah turun kembali karena pasirnya :P)

22

Saat pulang kembali Ranu Pani, perjalanan memakan waktu lebih cepat yaitu cukup 3,5 jam lebih cepat 1 jam daripada perjalanan ke Ranu Kumbolo. Hari itu adalah hari sabtu, banyak pengunjung lain yang menuju ke Ranu Kumbolo baik yang lokal maupun yang interlokal (bule maksudnya) :P Jadi bagi para Bule Hunter bisa ke sini saat week end. Juga sempat bertemu dengan trail runner yang juga menuju Ranu Kumbolo, seperti sedang latihan untuk ikutan Mount Rinjani Ultra atau Bromo Tengger Semeru 100K Ultra #salut.

Sesampai di Ranu Pani jangan lupa untuk mampir ke warung di sana untuk menikmati lezatnya Rawon. Dan akhirnya berjalanan ini berakhir setelah Jip (bukan Jeep) menjemput untuk meninggalkan Desa Siaga Bencana Ranu Pani.

{Kenapa?}

Baca cerita di atas saja pastinya terasa capenya naik tanjakan sambil bawa tas atau repotnya ketika panggilan alam harus dipenuhi. Jadi apa enaknya? Sudah cape dan mesti keluar biaya pula?

Apa sebenarnya yang kita lakukan saat disini, cukup sederhana ternyata jawabnya yaitu DO NOTHING (begitu kata salah seorang yang terlihat di foto orang-orang di atas). Dan benar saja, saat tenda sudah berdiri, setelah memasukkan barang-barang ke tenda, maka yang dilakukan duduk santai di pinggir danau, sambil memegang gelas yang berisi teh panas, menghangatkan tangan dan tenggorokan yang dingin.

Saat pagi, sikat gigi atau kegiatan pagi lainnya, sikat gigi dan tidak perlu mandi tentunya. Karena mandi hanya untuk jagoan nekat :P Kalaupun ingin bersihin badan cukup dilap dengan handuk atau tisu basah. Setelah kegiatan itu selesai dilakukan, dapat gelar matras di depan tenda, duduk sambil menghadap mentari, senyum kiri kanan ke orang-orang disekitar (walau belum tentu dibalas dengan senyum juga). Atau duduk di batang pohon yang rubuh seperti gambar di atas, dan tentunya DO NOTHING :P

DO NOTHING ini akan sangat susah dilakukan jika tempat yang dikunjungi masih ada sinyal telkom. Semoga sampai nanti pun Ranu Kumbolo tetap tidak ada tower telkom yang memberikan supply sinyal :P

Apalagi yang dilakukan saat disini? Bagi yang punya keinginan yang tidak mainstream seperti meniup saxaphone di Oro Oro Ombo maka perjalanan ini menjadi harus dilakukan. Walau harus berat membawa saxophone tetapi keinginan beliau tercapai juga, tidak bisa dihalangi oleh tanjakan ataupun umur #salut.

23

Bagaimana dengan kamu? :)

2 Comments + Add Comment

  • Perjalanannya mengingatkanku waktu mendaki gunung semeru, melewati ranu kumbolo. Kak, fotomu bagus-bagus banget. Kasih watermark aja, supaya ga dicolong orang yang tak bertanggung jawab,

  • makasih ceritanya, mas, rencana seminggu lagi mau main k sana..
    bener itu kata mas Bobby, fotonya keren2, mending d kasih watermark biar ga d klaim org.. :D

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Fotolia

Fotolia

ShutterStock


Fotolia
© 2013 eSevens
%d bloggers like this: